Cara Membuat Daftar Harga di Excel dengan Markup, Diskon, dan PPN
Daftar Harga di Excel dengan Markup, Diskon, PPN, dan Harga Grosir — Templat Excel — Lihat template →
Pemasok menaikkan harga, dan Anda harus mengubah puluhan harga jual satu per satu. Hampir selalu ada yang terlewat: ada barang yang masih dijual dengan harga lama, bahkan di bawah harga beli yang baru.
Solusinya: jangan mengetik harga jual. Ketik harga beli saja, lalu biarkan Excel menghitung harga eceran, promo, dan grosir. Panduan ini menunjukkan rumusnya, dan cara menghindari kekeliruan yang paling sering.
Langkah 1. Pisahkan parameter dari data
Buat satu lembar parameter berisi: apakah PPN diterapkan dan tarifnya, markup standar, langkah pembulatan, serta markup per kategori. Dengan begitu, mengubah markup kategori cukup dilakukan di satu tempat.
| Kategori | Markup |
|---|---|
| Makanan ringan | 25% |
| Minuman | 30% |
| Peralatan rumah | 40% |
| Aksesori | 60% |
Langkah 2. Markup atau margin?
Ini sumber salah paham paling umum. Markup dihitung dari harga beli, margin dari harga jual.
- Markup = (harga jual − harga beli) ÷ harga beli
- Margin = (harga jual − harga beli) ÷ harga jual
Contoh: beli Rp100.000, jual Rp130.000. Markup 30%, margin 23,1%. Kalau target Anda margin 30%, markup yang dibutuhkan sekitar 43%. Selalu tampilkan keduanya.
Langkah 3. Rumus harga eceran
Dengan harga beli di kolom D (tanpa PPN), markup di kolom E, dan tarif PPN di sel parameter:
=D2*(1+E2)*(1+PPN)
Jika Anda tidak memungut PPN, isi tarif 0 atau gunakan IF dengan sakelar «Ya/Tidak». Tarif PPN berubah dari waktu ke waktu, jadi cocokkan dengan peraturan yang berlaku dan status usaha Anda.
Contoh: harga beli Rp80.000, markup 30%, PPN 11%:
80.000 × 1,30 = 104.000; 104.000 × 1,11 = 115.440.
Langkah 4. Pembulatan ke harga yang enak dilihat
Rp115.440 tidak enak untuk kasir. Bulatkan ke kelipatan Rp500 ke atas dengan CEILING:
=CEILING(D2*(1+E2)*(1+PPN),500)
Pilihan lain: ke bawah (FLOOR) atau terdekat (MROUND). Hasil: Rp115.500. Pembulatan ke atas melindungi margin, sedangkan ke bawah lebih menarik bagi pembeli tetapi mengurangi margin.
Langkah 5. Harga promo dan grosir
Harga promo = harga eceran × (1 − diskon). Untuk grosir, buat tiga tingkat, misalnya mulai 10, 50, dan 100 unit, dengan diskon berbeda. Harga grosir tingkat 1 = harga eceran × (1 − 5%).
Setelah itu tambahkan kolom kontrol, kuncinya untuk menghindari rugi:
=IF(harga_promo<harga_beli,"Di bawah harga beli","OK")
Pada contoh, harga eceran Rp115.500 dengan diskon promo 20% menjadi Rp92.400, masih di atas harga beli Rp80.000 (tanpa PPN). Namun diskon 35% memberi Rp75.075 dan akan terpicu «Di bawah harga beli». Perhatikan juga bahwa harga beli dibandingkan dengan harga yang sebanding: apakah yang Anda bandingkan sudah termasuk PPN atau belum.
Kesalahan yang sering terjadi
- Mengetik harga jual manual. Begitu harga beli berubah, daftar menjadi usang.
- Mencampur markup dan margin. Dua istilah ini menghasilkan angka berbeda.
- Memberi diskon bertingkat tanpa kontrol. Diskon promo ditambah harga grosir bisa menembus harga beli.
- Lupa PPN pada harga beli. Bila pemasok memberi harga sudah termasuk PPN, bagi dulu agar tidak menghitung dua kali.
Template Excel daftar harga
Template ini berbayar, dan semua perbaikan serta versi baru proyek ini Anda dapatkan gratis. Isinya:
- «Parameter»: pengaktifan PPN dan tarifnya, markup default, langkah dan metode pembulatan, tiga tingkat grosir, hingga 12 kategori dengan markup, dan satuan ukur.
- «Produk»: hingga 1000 item dengan SKU, nama, kategori, harga beli, markup khusus, diskon promo, harga eceran, harga promo, tiga harga grosir, margin dalam nilai dan persen, serta kolom kontrol.
- «Ringkasan»: jumlah item, rata-rata markup dan margin, rata-rata harga per kategori dan tingkat, serta dua diagram.
Markup diambil dari kolom «Markup khusus» bila diisi, lalu dari markup kategori, lalu dari markup default. Cocok untuk pemilik toko, perusahaan grosir kecil, penjual marketplace, dan staf pengadaan. Bekerja di Excel 2007 ke atas dan LibreOffice, tanpa makro.
FAQ
Berapa markup yang ideal?
Tidak ada angka tunggal. Tergantung kategori, biaya operasional, dan harga pesaing. Mulailah dari margin yang menutup biaya dan memberi laba, lalu uji.
Haruskah harga di rak sudah termasuk PPN?
Itu tergantung status usaha dan aturan yang berlaku. Karena itu sebaiknya PPN dibuat sebagai parameter yang bisa dinyalakan atau dimatikan.
Bagaimana menghindari harga di bawah harga beli?
Tambahkan kolom kontrol yang membandingkan harga promo dan grosir dengan harga beli, lalu beri warna merah.
KHIZHNYAKOV